Surat Adik untuk Presiden

Oleh: Yusuf Muhammad1

1| Badan Pengurus Harian Birena Al Hurriyyah IPB
Korespondensi: ibnuyakub.yusuf@gmail.com / 085724420880


Pendidikan dan yatim-piatu menjadi perhatian utama.


Bogor – Adik-adik Birena (Bimbingan Remaja dan Anak-anak) membuat surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ahad (24/3). Pembuatan surat tersebut dalam rangka kegiatan pembinaan pekanan berupa rupa-rupa. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan adik-adik dalam menulis surat.

Derry Ferdani Rustanzi, mahasiswa Silvikultur IPB (20 tahun), menjadi penanggung jawab kegiatan. Beliau memberikan beberapa pilihan isi surat. Pilihan isi surat tersebut antara lain tentang pemeliharaan anak yatim-piatu; penjagaan anak dari kekerasan dan penindasan; pemberian mainan dan tempat bermain bagi anak; beasiswa bagi anak berprestasi; pendidikan gratis hingga perguruan tinggi; dan nasib anak-anak di perbatasan Indonesia.

Hasilnya sebanyak 36% dari 139 isi surat tertulis permohonan agar pendidikan digratiskan hingga perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan keinginan untuk meraih pendidikan pada adik-adik Birena sangat tinggi. Kedua terbesar adalah tentang kepedulian terhadap anak yatim-piatu, yaitu sebanyak 22%. Disusul tentang penjagaan anak terhadap kekerasan dan penindasan sebanyak 11%.

Sedangkan empat dari delapan adik yang menulis tentang beasiswa prestasi merasa tidak mendapatkan apresiasi meskipun berprestasi. Seperti yang terjadi pada Arif (V SD) dari Ciampea, Bogor. Dia menulis dalam suratnya bahwa meskipun dia juara II tapi tidak ada yang memberinya hadiah. Bahkan dia merasa teman-teman meliriknya dengan sebelah mata.

Sisanya sebanyak 4% menuliskan tentang kepedulian terhadap nasib anak-anak di perbatasan Indonesia. Tiga adik lainnya dengan polos meminta mainan dan tempat bermain kepada pak presiden. Dan hanya dua adik (1%), yaitu Gading Bahari (VI SD) dan Syaidah Nurul Maulida (VI SD), yang meminta pak presiden untuk memberantas korupsi. Meskipun di luar dari pilihan isi surat yang diberikan, tapi hal ini sangat membanggakan. Karena itu menandakan mereka memiliki kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap kasus korupsi.

Hasil kegiatan penulisan surat cukup membanggakan, meskipun menuai sedikit kekecewaan. Masih terdapat 12% surat yang hanya berisi pengulangan contoh surat yang tertampang di papan tulis. Lebih menyedihkan lagi karena banyak adik yang kurang paham tersebut sudah kelas V dan VI. Selain itu, hampir sebagian besar penulisan surat belum sesuai EYD dan tata bahasa yang baik. Ini sedikit menandakan bahwa bangsa Indonesia ternyata belum menguasai bahasa nasionalnya sendiri.

Tulisan ini bisa menjadi sedikit cerminan dari kondisi anak bangsa. Harapan anak bangsa yang tinggi terhadap pendidikan haruslah dipertahankan. Begitu pula tentang kepedulian terhadap yatim-piatu. Masih kurangnya apresiasi terhadap prestasi menjadi “PR” bagi Indonesia. Mungkin masih banyak pula anak bangsa yang tidak tahu kabar saudaranya di wilayah perbatasan sana. Kurangnya penguasaan bahasa nasional juga menjadi keprihatinan tersendiri.

Advertisements

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s