Hari Pangan Sedunia Ke-34: Tak Sekedar Kedaulatan Pangan

Oleh: Abdul Aziz1
1 Ketua Bidang Program dan Kajian Strategis (Prokas) 2014

Peringatan hari Pangan dunia merupakan momentum yang penting bagi negara-negara di seluruh dunia. Tepat pada tanggal 16 Oktober adalah hari berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO) yang kini dijadikan sebagai Hari Pangan Sedunia sejak tahun 1981. Bangsa kita, bangsa Indonesia setiap tahunnya selalu memperingati Hari Pangan Sedunia sebagai wujud kepedulian terhadap pangan. Wujud kepedulian pangan ini terjadi akibat adanya motivasi mencegah dan menyelesaikan ancaman krisis pangan bangsa yang selalu menghantui negara-negara berkembang, khususnya bangsa kita. Oleh karena itu peringatan Hari Pangan Sedunia ini selalu menggembargemborkan upaya kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan. Salah satu bentuk upaya yang sering kita dengar adalah gerakan-gerakan cinta pangan lokal dan gerakan one day no rice. Namun hingga saat ini juga beras dan gandum masih menjadi bahan pokok favorit. Bahkan faktanya, tingkat impor kedua bahan pokok tersebut semakin meningkat dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi pangan bangsa tentu sangat terancam.

Pembicaraan yang selalu diperbincangkan dalam Hari Pangan Sedunia pada intinya adalah menciptakan impian besar pangan bangsa, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan bangsa. Bentuk tujuan terciptanya kondisi tersebut adalah pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan pada setiap individu di seluruh lapisan masyarakat bangsa yang berimbang, bergizi, sehat, dan aman. Persoalan besar yang diperbincangkan dan solusi besar yang ditawarkan hingga kini belum terasa memberikan pengaruh nyata terhadap kondisi pangan bangsa Indonesia. Di balik semua persoalan besar tentang pangan ini terdapat hal-hal kecil “sepele” yang dikesampingkan bahkan ironisnya tak dipedulikan oleh orang-orang yang katanya peduli pangan serta bercita-cita keras mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan bangsa. Hal kecil atau sepele ini adalah etika terhadap pangan.

Etika terhadap pangan secara spesifik adalah etika makan dan minum. Sangat jarang pembicaraan etika makan dan minum dibicarakan dalam event besar pangan. Hal ini terjadi karena terlalu fokus dengan masalah besar pangan seperti kerawanan pangan, krisis pangan, ataupun masalah pangan lainnya. Sehingga permasalahan etika pangan seolah terabaikan dan muncullah krisis etika terhadap pangan. Padahal etika terhadap pangan yang telah diajarkan dalam agama Islam begitu sempurna, namun kini seolah terabaikan dan sedikit yang mengamalkannya sehingga bisa jadi hal ini adalah penyebab masalah pangan yang kini mengancam bangsa kita dan merupakan pula akar permasalahan pangan sedunia. Beberapa etika makan dalam perspektif Al-Qur`an dan As Sunnah yang sering dilalaikan yaitu membaca basmallah, menggunakan tangan kanan, makan dengan tiga jari dan menjilatinya selesai makan serta mengambil suapan yang jatuh, memulai makan dengan makanan terdekat, makan sambil duduk, tidak boleh boros atau berlebih-lebih, dan bersyukur.

Beberapa cara makan sesuai etika Islam telah terbukti memiliki nilai positif melalui penelitian ilmiah. Ini memperkuat bahwa etika makan yang diajarkan Islam bukanlah sekedar perintah ataupun larangan. Salah satu contohnya, dalam Journal of The Academy of Nutrition and Dietetics 2007 disebutkan bahwa makan dengan duduk dapat mencegah risiko diabetes atau obesitas karena kalori yang terserap akan lebih rendah. Pendapat lain diperkuat pada British Medical Journal 2008 yang menyimpulkan bahwa makan dengan pelan dapat mencegah risiko diabetes, seperti yang diajarkan islam melalui etika makan dengan tiga jari. Terkait masalah krisis pangan ataupun kerawanan pangan bangsa sangat erat hubungannya dengan etika makan yang tidak boleh boros atau berlebihan serta memakan makanan terdekat. Semakin boros jumlah pangan yang dikonsumsi berakibat pasokan dalam negeri rendah sehingga terpaksa impor bahan pangan dilakukan. Ketergantungan impor justru semakin melemahkan ketahanan pangan bangsa. Selain itu, etika makan, makanan terdekat, penulis artikan bahwa masyarakat diajarkan memakan bahan-bahan pangan di sekitar lingkungan kita, menggali potensi bahan pangan lokal. Etika ini secara tidak langsung mengajarkan untuk tidak mengimpor bahan pangan tetapi dengan memanfaatkan bahan lokal sehingga menunjang kemandirian pangan. Bersyukur juga mengajarkan masyarakat untuk menerima bahan pangan yang ada serta memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan dan mengolah kualitas pangan yang baik. Serta masih banyak hal positif lainnya dari etika-etika makan dan minum yang diajarkan dalam Islam yang mendukung kondisi pangan yang terjamin.

Selamat Hari Pangan Sedunia!

Mari ciptakan kondisi pangan dunia menjadi lebih berkah dengan menjalankan etika makan dan minum yang telah diajarkan dalam Agama Islam.

Advertisements

5 thoughts on “Hari Pangan Sedunia Ke-34: Tak Sekedar Kedaulatan Pangan

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s