Pecahkan Kebosanan!

Fauziatul Muslimah
Staf Bidang Prokas 2014


Kejenuhan serta ketidakakraban antaradik atau antara adik dengan pembina harus diselesaikan.


BOGOR – Ahad (7/12) lalu menjadi Ahad yang tidak biasa di Birena. Berawal dari kejenuhan adik dan pembina dalam kegiatan belajar mengajar, Birena mengadakan Gift for Birena (GFB) 2014. GFB 2014 memakai konsep outbond dan berlokasi di sekitar Masjid Al-Hurriyyah hingga perumahan dosen IPB.

Ketua pelaksana, Aji Najib Nashiruddin mengatakan GFB merupakan bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih atas partisipasi adik-adik di Birena. Selain itu GFB bukan hanya outbond untuk melatih fisik dan keterampilan adik saja.

“Sistem pembinaan Birena saat ini seakan-akan dikotomi. Semoga dengan GFB, tercipta hubungan yang harmonis antara anak-anak dan remaja juga antara adik dan pembina,” ujar Najib.

Entah berhasil atau tidak, adik-adik baik anak-anak maupun remaja tampak menikmati outbond dengan canda tawa. Terdapat lima pos dalam outbond ini. Sebelum dimulai, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari anak-anak dan remaja. Tentunya ikhwan dan akhwat tidak bercampur dalam kelompok yang sama. Hasilnya ada 10 kelompok ikhwan dan 10 kelompok akhwat dengan jumlah anggota per kelompok 10-14 orang.

Pos pertama anak-anak dan remaja akan bermain dengan air. Mereka harus mengeluarkan bola kecil yang ada di dalam paralon berlubang dengan cara memasukkan air ke dalam paralon tersebut hingga bola terdorong keluar. Pos kedua mereka seolah menjadi bagian dari Densus 88. Botol berisi air dari satu tempat harus dipindahkan ke tempat lain dengan menggunakan bantuan tali rafia. Botol berisi air tersebut dianggap bom, sehingga jika botol tersebut terjatuh ketika dipindahkan, peserta harus mengulang dari tempat awal.

Pos ketiga adik-adik diuji hafalannya mengenai surat-surat pendek juz 30. Anak-anak dan remaja harus menyusun potongan-potongan surat menjadi suatu surat yang utuh. Potongan surat tersebut diambil dari wadah berisi tepung terigu dengan menggunakan mulut. Namun untuk mencapai wadah berisi tepung tersebut, sebelumnya mereka harus melewati jalur khusus yang telah disediakan dengan cara merayap.

Ada yang berbeda dengan pos keempat. Anak-anak dan remaja diuji kekompakannya. Mereka berperan sebagai Aladin menggunakan trash bag sebagai karpet ajaibnya. Satu orang remaja bermain berpasangan dengan seorang anak-anak. Anak-anak digendong oleh remaja menuju tempat tujuan dengan hanya menginjakkan kaki pada trash bag yang telah disediakan. Trash bag itu harus selalu dipindahkan agar mereka dapat mencapai tempat yang dituju. Sedangkan pos kelima ada untuk mengasah konsentrasi dan kesabaran adik-adik. Di sana anak-anak dan remaja bermain games memasukkan pensil yang telah diikat pada pinggang ke dalam botol.

Selain kelima pos yang telah dijelaskan di atas, anak-anak dan remaja masih harus melewati pos terakhir, yaitu pos bermain bersama. Di sana anak-anak dan remaja bermain ular naga dan tarik tambang dalam skala besar. Kelompok-kelompok kecil di awal akan digabung kemudian dipisah lagi menjadi 4 kelompok besar.

Salah seorang remaja akhwat yang tidak disebutkan namanya menyarankan kegiatan ini dilakukan secara rutin. Agar kegiatan pembinaan tidak terasa membosankan karena melakukan aktivitas yang sama berulang kali. Azfar Reza Muqafa, alumni adik sekaligus pembina senior menanggapi dalam forum yang berbeda bahwa GFB tidak perlu rutin setiap bulan. Cukup satu-dua kali dalam satu semester atau satu tahun.

“Jika dilakukan rutin setiap bulan, GFB akan sama membosankannya dengan agenda pembinaan yang lain. Lagi pula kedekatan antara adik dan pembina tidak akan bisa tercipta hanya dari sebuah outbond,” ujar Reza. Menurutnya keistiqomahan pembina dalam kehadiran setiap pekan lah yang bisa membuat kedekatan antara adik dan pembina. ■ ed: Yusuf Muhammad

This slideshow requires JavaScript.


Catatan Kaki:
Adik = istilah yang digunakan untuk menyebut binaan di Birena baik anak-anak maupun remaja.

Anak-anak = istilah yang digunakan untuk binaan yang duduk di kelas 1-6 SD.

Remaja = istilah yang digunakan untuk binaan tingkat SMP dan SMA.

Advertisements

5 thoughts on “Pecahkan Kebosanan!

  1. Wah, setuju banget dengan kata-kata kak Reza di atas. Jadi ingat waktu mabit bareng kak Zainal, kak Yusuf, dan kak Reza di markaz. Kurang lebih kak Reza bilang,

    “Boleh lah sekali-kali ada outbond. Tapi sebenarnya yang paling penting itu pendekatan personal. Kalau cuma eventual kayak gini mah tetap gak bakal mengikat hati antara adik dengan pembina. Caranya ya pembina kudu rajin datang Ahadan dan sesekali jaulah ke rumah adik.”

    Liked by 3 people

  2. “Jika dilakukan rutin setiap bulan, GFB akan sama membosankannya dengan agenda pembinaan yang lain. Lagi pula kedekatan antara adik dan pembina tidak akan bisa tercipta hanya dari sebuah outbond,” (Muqafa, 2014). setuju deh sama ka Reza

    Liked by 2 people

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s