Menjadi Merdeka Yang Seutuhnya

■ Ayu Amalia Khoirunnisa


Merdeka seutuhnya tidak hanya dirasakan satu hari saja, tapi selama ia belum kehilangan raga.


Indonesia kini genap memasuki tahun ke-70 setelah Bung Karno resmi menyatakan kemerdekaannya. Tentu telah banyak yang berubah dengan Indonesia saat ini dibandingkan tujuh puluh tahun yang lalu. Bangunan usang telah berubah menjadi gedung gedung pencakar langit, jalan jalan berkerikil kini telah malang melintang mulus dimana mana, lahan lahan kosongpun telah terisi dengan pusat perbelanjaan dan industri industri tempat para karyawan mencari nafkah.

Dengan genapnya usia kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki angka 70, tidak berlebihan jika seseorang ingin bertanya pada negeri tercintanya, Indonesia, “Benarkah kau telah merdeka?”. Lihatlah betapa bahagianya orang-orang yang melakukan perayaan di setiap tanggal 17 Agustus. Dalam satu hari itu mereka berhasil melupakan segala-galanya. Memanjat pohon pinang dan berusaha meraih hadiah sehingga mereka lupa bahwa bisa kapan saja rentenir mendatangi rumahnya. Lomba makan kerupuk dan lupa bahwa bisa saja besok ia dan keluarganya tidak dapat menemui makanan.

Tentu merupakan akhlak yang baik ketika memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Tapi kita sebagai guru dan orang-orang yang dituakan oleh anak-anak di sekitar kita tidak lantas melupakan problem mereka saat ini. Bisa saja hari ini mereka terlihat bahagia, tapi besok dan hari-hari kedepannya kembali mereka temui kepedihan hidup yang terjadi di negeri ini. Menyaksikan orang-orang seusia Ayah Ibunya untuk mengais makanan di tempat sampah atau orang-orang seusia Kakek Neneknya tertatih dan memelas meminta uang di lampu merah. Kembali mereka melihat sahabatnya menangis berhenti menyelesaikan pendidikan yang sebenarnya masih panjang, entah karena tak memiliki biaya atau karena janin yang sedang dikandungnya. Dan bahkan mereka bisa saja kembali melihat sahabatnya mati mengenaskan dengan luka pukulan diakibatkan temannya sendiri yang bersekolah di luar sekolahnya. Disadari atau tidak murid-murid dan anak-anak kita sangat tertekan dengan setiap kenyaatan pedih yang dihadapinya. Bisa saja mereka menyerah dengan keadaan dan hanya sedikit yang bertekad untuk memperbaikinya.

Tidaklah berlebihan jika setiap guru menginginkan kesuksesan murid-muridnya, dan wajar ketika orang tua mengharapkan kebahagiaan anak-anaknya. Perhatikanlah bahwa pendidikan dan karakter yang tepat dapat memacu kebahagiaan mereka seutuhnya. Pendidikan yang tepat itu berasal dari Allah SWT. Menanamkan pada mereka untuk senantiasa berusaha layaknya kita akan hidup 1000 tahun lagi, serta mengingatkan mereka untuk memberikan ibadah terbaiknya pada Allah SWT layaknya esok kita akan mati. Merdeka seutuhnya tidak hanya dirasakan satu hari saja, tapi selama ia belum kehilangan raga. Ed: N.


Tentang Penulis:
Ayu Amalia Khoirunnisa merupakan mahasiswa Departemen Ekonomi Syariah FEM IPB angkatan 2013. Beliau menjadi pengurus Birena sejak tahun 2014. Saat ini beliau menjabat sebagai Bendahara Bidang Prokas (Program dan Kajian Strategis) Birena Al Hurriyyah IPB Kabinet Istana Lebah 1436 H.


Advertisements

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s