Apa itu Liburan?

Oleh: Sastra Wijaya | Remaja Birena Aluhrriyyah 1436 H
Editor: Dika Rahmat S | Kepala Sekolah Birena Alhurriyyah 1436 H

Angin genit subuh mengelus tubuh anak yang berperawakan biasa-biasa ini. Padahal jarum jam belum genap tepat menunjuk angka tiga, namun anak ini sudah melakukan olah raga pagi, menarik katrol sumur yang dalamnya kira-kira enam belas meter sudah menjadi sarapan sehari-hari baginya, beberapa ember besar dan kecil harus ia isi sebelum sang bibi beranjak dari mimpinya.

Pemandangan yang tak aneh lagi kalau ia harus bertarung keras menahan dinginnya air sumur subuh setengah beku. Mandi pun dimulai atau pertempuran melawan dingin pun dimulai. Wudhu lekas ia ambil dengan segera. Lantas qiyamullail penuh khidmat ia laksanakan sembari membayangkan apa yang ia dialogkan pada sang Tuhan. Menyentuh sekali, sampai meneteskan air mata yang membanjiri pipi kanan dan kiri. Lalu anak ini meminta dengan penuh harap serta cemas apakah doanya akan di terima sedangkan ia selalu bemaksiat pada Tuhannya. Beberapa ayat Alquran ia waroja’ah sedikit agar menjaga supaya tak lekas hilang dari ingatan.

Terdengar adzan berkumandang dan menghentikan murojaahnya, tanpa menunggu aba-aba ia langkahkan kakinya dan ia ayunkn tangannya untuk menuju masjid. Selepas sholat ia lantas membuka al ma’tsurat dan membacanya.

Tak banyak membuang waktu, sesegera mungkin ia mengeluarkan sepeda kesayangan yang ia peroleh dari jerih payah menabungnya, beberapa bulan silam. Menanjak, menurun dan berkelak-kelok itulah jalan yang harus ia lalap bersama sang sepeda kesayangan. Tujuan utumanya ialah menghadiri kajian tafsir di masjid kecil, Atturkiyah.

Pukul 05:55 sekitar lima menit lagi kajia segera di mulai, ia pun melaksanakan sholat tahyatul masjid dengan singkat sebagai tanda penghormatan terhadap rumah Allah yang begitu menawan, seusainya merapikan tempat dengan menggeser hijab antara tempat pria dan wanita. Satu jam penuh hikmah ia lewati, banyak sekali pelajaran pennting yang dapat di petik dari kajian singkat bersama sang ustadz, ustadz Wahid, itulah nama nya.

Pukul 07:05 anak ini tak banyak membuang waktu, ia kayuh langsung sepedanya menuju masjid Alhurryah, Birena, itulah peraduan selanjutnya yang harus ia jalani, perlu di ingat sebenarnya bukan harus karena keharusan. Semua ini ia lakukan karena nafsunya sangat besar pada ilmu, terutama ilmu agama Alloh yang luas. Belajar,belajar dan belajar, ia lakoni dengan semangat tingkat tinggi. Ia adalah anak yang sangat memaksakan diri sampai-sampai tubuhnya tak kuasa menahan rasa kantuk oleh alam bawah sadarnya yang selalu memaksa ia bekerja sedemikian keras.

Tak terasa adzan dzuhur berkumandang, bertalu-talu saling ahut menyahut dan saling menggema dari mana-mana. Terjatuh terkapar ia seusai ba’diah dzuhur selayaknya para mujahid yang mati syahid di medan perang, tertidur di masjid sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Pukul 14:15 ia terbangun dari sergapan kantuk yang beberapa jam lalu menyerang. Ia mengambil wudhu dan serta merta meninggalkan Alhurriyah, menuju sanggar belajar yatim. Pengajian di mulai seusai sholat asar berarti, akan ada beberapa halaman ensiklopedia yang akan segera ia lahap beberapa menit lagi, sambil menunggu adzan tiba. Adzan pun tiba ia segera shalat dan kembali menuju sanggar. Pengajian dimulai, bukan perkara kecil karena apa. Karena ia harus menghadapi anak-anak super nakal yang selalu bising jika lengah barang sedetik. Namun apakah itu membuatnya surut semangat? Jawabannya tidak,kawan. Cerita cerita penuh hikmah yang ia ceritakan membuat bungkam semuanya, pandangan anak-anak sanggar secara otomatis tertuju pada anak ini, benar-benar secara otomatis seperti timbulnya jerawat pada remaja. Mungkin karena ke ulungan sang pendongeng satu inilah yang membuat semuanya terdiam bisu. Lalu membaca bacaan,di lanjutkan sesi pertanyaan dan pembacaan doa pulang serta usai belajar. Pukul 17:00 pengajian selesai, lantas giliran al ma’tsurat petang yang ia baca. Pulang, demikian kata yang menyejukan telinga karena telah seharian penuh hari penuh dengan kesibukan. Solat magrib pun ia dirikan, dan seusainnya ia langsung beranjak ke pengajian, sekarang barulah ia mengaji.

Sampai pukul 20:30 pengajian usai ia si anak biasa-biasa ini dalam perawakannya, hanya berkesempatan membuka buku pelajaran untuk senin esok yang akan datang.

Sampai akhirnya terlelaplah ia bersama buku bertuliskan mata pelajaran agama islam yang menutupi wajah lelahnya. Ini semua ia lakoni secara terus-menerus dan semoga terus-meneruslah apa-apa kebaikan yang ia lakukan, aamiin.

Sutu hari terkadang dalam diam ia merenung sambil bertanya,”apa itu liburan?”

Dikutip dari buku harian Sastra Wijaya.

Advertisements

One thought on “Apa itu Liburan?

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s