Kilauan Bola Mata Suci Sang Penerus

■ Riadi


Semuanya berbeda tiada yang sama. Dia yang sedang berlarian kesana kemari membawa senyum ceria dan penuh semangat. Tertunduk malu-malu dan sesekali senyuman menggurat diwajahnya. Duduk di sudut sana dengan wajah lugunya terlihat diam seribu bahasa. Keingintahuannya tercurah dengan sifat cerewet yang menggemaskan. Mengekspresikan dirinya dengan tarian dan nyanyian yang membuatnya tampak menikmati keindahan hidup. Meski dia tak mendengar, tak melihat, tak merasa dan tak mampu berdiri menikmati dunia, namun besar keinginannya. Setiap kali melihat bola matanya, seakan untaian kata keluar dari mulut mungilnya. Inilah saya, anak ayah dan bunda. Saya adalah mutiara cinta yang akan mengisi kedamaian di dunia.

Dunia memang fana, namun masih terdapat kebenaran meski nantinya hanya sebesar biji dzarrah. Masih ada harapan yang akan digenggam tangan-tangan mungil itu. Allah SWT berfirman:

”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”   (Qs An-Nisa 4:9). Hal ini menunjukkan, bahwa Allah meminta kepada kita untuk menjaga senyuman, kepolosan, kejujuran, dan rasa ingin tahu mereka, si malaikat kecil.

Semuanya spesial tiada yang biasa saja. Saya berbeda dengannya, saya tak ingin dibandingkan dengan yang lain. Saya suka melakukan ini, bukan seperti yang dikerjakan mereka. Saya memiliki kemampuan sendiri dan paksaan bukan jalan tuk membuat saya berkembang. Saya cinta dengan dunia saya. Begitulah mereka, semuanya istimewa. Selama mereka diberi kesempatan tuk merasakan pendidikan pasti mereka akan berkembang.

Pendidikan adalah pelita. Pendidikan adalah proses mengubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan pengajaran yang baik pula. Pendidikan keimanan yang akan mendekatkan diri kepada Allah

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezaliman yang besar.”(Qs Luqman 31:13). Pendidikan akhlak, proses menanamkan kepribadian yang baik dan berkarakter, sehingga menjadikan anak berakhlaqul karimah. Pendidikan intelektual menghasilkan kecerdasan yang membuat ilmu menjadi bermanfaat dalam kehidupan. Pendidikan fisik dan psikis yang membuat anak sehat jasmani dan rohani. Mari kita ingat, Ibnu Sina adalah Bapak Kedokteran Modern, Al-Khawarizmi disebut Bapak Aljabar,Ibnu Hayyan di sebut Bapak Kimia, dan masih banyak lagi dimana Mereka membuat Islam semakin jaya pada masanya.

Cara mendidik dan membesarkan anak berpengaruh besar dalam perkembangan mereka. Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan lingkungan dan kondisi yang dia dapatkan. Semua proses yang mereka lalui akan menjadi tinta yang tertulis di masa mendatang. Dalam tulisannya, Dorothly Law Notle pernah berkata,

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar untuk memaki.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Rasulullah SAW telah mencontohkan cara mendidik anak yang baik. Rasul mendidik anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ketika usia 0-6 tahun, beliau memperlakukan anak sebagai seorang raja. Usia 7-14 tahun, beliau menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab. Usia 15-21 tahun, beliau memperlakukan anak sebagai seorang sahabat. Usia anak pada 21 tahun ke atas merupakan masa memberikan kepercayaan kepada anak dalam membuat keputusan sendiri diiringi doa dan nasehat. Selain itu, Rasulullah mendidik anak-anak dengan memuliakan dan menyayangi mereka, mengucapkan salam pada anak, bersikap adil dalam menyayangi, dan menepati janji.

Curahkan kasih sayang dengan bermain bersama-sama mereka. Jabir Ra berkata : “pernah kami bersama Rasulullah SAW kemudian kami di undang makan bersama. Tiba-tiba kami melihat Husain bermain di jalan bersama anak-anak kecil lain. Melihat itu Nabi di depan sahabatnya membeentangkan tangannya, lalu beliau kesana kemari sehingga Husain tertawa. Rasul kemudian membawanya , meletakkan tangan salah satu tangannya di dagunya dan yang lain diletakkan di antara kepala dan kedua telinganya.”(HR Bukhari dan Tirmidzi).

Jadi, setiap anak itu istimewa. Senyumnya penuh dengan ketulusan. Anak-anak perlu mendapatkan bimbingan dan pengajaran yang baik. Karena generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Lihatlah bola mata mereka memancarkan kilauan. Nyalakan lilin, dan lakukan sesuatu. Ed: F & T

Advertisements

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s