Sudah tepatkah kita mendidik anak?

Sebagai orang tua sudah tepatkah kita mendidik anak? Sudah maksimalkah pengawasan kita terhadap mereka?


Parenting
source pic: http://abiummi.com/assets/uploads/2015/04/Adepristya-Wiyadi_How-To-Be-A-Great-Father-with-Parenting-Islami_04.jpg

Saat ini permasalahan-permasalahan terkait anak semakin marak diperbincangkan. Mulai dari kekerasan verbal, fisik, bahkan seksual sudah mulai merajalela di kalangan anak-anak. LGBT atau Lesbian Gay Biseksual dan Transgender pun tak kalah menghebohkan masyarakat. Pemahaman sesat bahwa LGBT merupakan pemberian Tuhan tidak boleh dibiarkan. Karena perilaku menyimpang seperti LGBT “Haram” hukumnya. Hal ini sudah jelas tertera dalam Al-Quran Surah Al-A’Raf ayat 80-82 yang menyatakan bahwa kaum Nabi Luth di azab karena perbuatan haram tersebut.Menurut (suara.com) persentase LGBT mencapai 3% dari seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 7 juta orang!. Dari sekian banyak permasalahan yang menjangkit anak-anak bangsa, telah banyak upaya yang telah dilakukan oleh para ahli dalam mencegah maupun mengobatinya. Namun, yang menjadi dasar pertanyaan kita adalah apakah yang menjadi akar permasalahan nya?. Berbagai penelitian menyatakan bahwa pola pengasuhan pada anak sangat menentukan perilaku anak dan berdampak jangka panjang. Sehingga pola pengasuhan yang salah pun dapat menyebabkan LGBT!

Ada banyak pola pengasuhan yang dicetuskan oleh para ahli terkemuka di dunia. Seperti pola pengasuhan otoriter, demokratis, dan permisif serta masih banyak lagi. Namun, apakah dengan berbagai pola pengasuhan pada anak ini sudah benar dengan tuntunan Sunnah Rasulullah?. Seperti yang kita ketahui, bahwa Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala sisi kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga terlelap lagi, mulai ujung kaki hingga ujung rambut manusia. Maka bukan suatu ketidakmungkinan bahwa pola pengasuhan anak sebenarnya telah dicontohkan oleh Rasulullah sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu. Hanya saja, banyak keluarga yang masih minim pengetahuannya mengenai pengasuhan anak. Oleh karena itu, tulisan ini ingin memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pola pengasuhan Rasulullah pada anak.

Bersumber dari tulisan Ustadz Djalaludin Asy Syatibi berikut ada beberapa pola pengasuhan yang dicontohkan oleh Rasulullah:

Pertama, bersikap adil. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berlaku adil akan dimuliakan di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukumnya, berlaku adil terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin.” (HR. Muslim).Keadilan orangtua atas anak-anaknya akan mendatangkan ketenteram dan ketenangan. Sudah barang tentu tumbuh kembang psikologis anak akan sehat jika lingkungan tempat ia hidup sehat. Sehingga Rasulullah lebih tegas lagi berpesan kepada kita, “Bertaqwalah kepada Allah, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Muslim)

Kedua, bersikap sabar, yaitu menahan jiwa dari rasa putus asa, lisan dari keluh kesah dan jasmani dari sifat vandalisme. Orangtua dituntut sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Rasulullah menyebutnya “Sabar itu cahaya”. Sesungguhnya pula kesabaran itu sifat pemimpin sejati. Bersikap sabar terhadap anak berarti mengajari anak secara verbal tentang makna penting dari kesabaran.

Ketiga, kasih sayang. Dari Abdullah bin Syidad menceritakan, ketika Rasulullah menjadi imam shalat, tiba-tiba Husen datang menghampiri beliau dan langsung menunggangi leher beliau ketika beliau sujud, maka beliau memanjangkan sujudnya sampai-sampai orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu hal. Ketika shalat selesai, mereka bertanya ihwal kejadian itu. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya anakku menunggangiku, maka saya tidak mau ia terburu-buru (agar turun) sampai ia merasa puas.” (HR. An-Nasai). Jika saat shalat saja Rasulullah tetap mencurahkan rasa kasih sayang dan kelembutan terhadap anak, tentu saja saat-saat di luar shalat juga. Hal ini sudah memberikan sinyal sangat kuat bahwa memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh disepelekan.

Keempat, menjadi teladan. Keteladanan merupakan cara paling efektif dalam transfer nilai-nilai kebaikan. Pepatah Arab mengatakan bahwa contoh nyata satu orang bagi seribu orang lebih baik ketimbang kata-kata seribu orang untuk satu orang. Dalam hal ini, orangtua benar-benar dituntut bisa menyelaraskan segala bentuk perilakunya karena anak akan selalu melihat dan meniru tingkah pola orang tua ketimbang kata-katanya. Bagi anak, bahasa tubuh lebih mudah dipahami daripada bahasa lisan.Selain itu, orangtua juga dituntut untuk senantiasa menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan. Hal itu akan membantu anak dalam menginternalisasi nilai-nilai kejujuran pada dirinya. Abdullah Ibnu Amir bertutur bahwa saat Rasulullah berada di rumahnya tiba-tiba sang ibu memanggilnya, “Kemarilah! Saya akan memberimu.” Rasulullah pun menyela, “Apa yang akan engkau berikan?” “Saya akan memberinya kurma,” ujar wanita itu. Nabi pun menasehatinya, “Ingat! Jika ternyata engkau tidak memberinya apapun maka engkau akan tercatat sebagai pembohong.” (HR Abu Dawud).Maka, tatkala seorang anak melihat adanya keselarasan antara kata-kata dan perbuatan, pada hakikatnya anak sedang diajari makna kejujuran, integritas dan komitmen. Imbasnya, orangtua akan memiliki wibawa di mata anak, sehingga orangtua akan selalu digugu, ditiru dan ditaati.

Kelima, karakter orangtua yang senantiasa menghargai sang anak. Rasulullah pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan anak-anak Abbas lainnya. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang dapat mendahului saya, dia akan mendapatkan ini.” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah sehingga mereka berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka dipegangi dan diciumi oleh beliau. Itulah sebuah bentuk penghargaan Nabi terhadap anak-anak. Menghargai anak adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan sang anak, sehingga anak akan termotivasi untuk mengembangkan potensinya tanpa merasa malu dan minder. Ketika anak itu dihargai dan dipuji, maka itu akan membuatnya terdorong untuk kembali melakukan pekerjaan kebaikan yang pernah dilakukannya.

Keenam, mengayomi. Syaikh Muhammad Al-Khidr dalam bukunya As-Sa’adatul Udhma memberikan sebuah analisa, banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari ‘pemimpin umat’, hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada di balik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Namun, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalului pendidikan. Merujuk ke analisa tadi, maka orangtua dituntut untuk mengayomi bakat-bakat dan kemampuan anak yang tersembunyi di balik tabir, bukan malah mengekangnya. Mengayomi artinya memelihara potensi-potensi anak sembari berupaya memberikan stimulasi-stimulasi untuk mengembangkan potensi anak seperti dengan metode bercerita, reward dan punishment, dan games-games yang bermanfaat. Oleh karena itu, orangtua dituntut kreatif dalam upaya pengembangan ini.Sejarah Islam pun mencatat banyak sosok belia yang punya peran penting dalam kerangka keummatan. Usamah bin Zaid pada usia 17 tahun tercatat sebagai panglima perang dalam sebuah pasukan yang akan menghadapi tentara Romawi di wilayah Syam, padahal dalam pasukan itu tercatat nama Abu Bakar dan Umar. Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal sebagai duta Islam ke Yaman. Saat itu Muadz berusia 19 tahun.

Ketujuh, komunikatif. Sebenarnya dari semua nilai-nilai yang akan diberikan kepada anak, tidak akan pernah tersampaikan secara baik bila saluran komunikasinya buruk. Maka orangtua haruslah menjadi pribadi yang komunikatif, tidak tertutup dan berbicara hanya satu arah. Terjadinya komunikasi sehat antara orangtua dengan anak akan membantu menumbuhkan dan mempertajam penalarannnya serta menjadi lebih terbuka.Umar pernah mendapati pengaduan seseorang yang anaknya dianggap durhaka. Umar pun bertanya kepada anak itu, “Apa yang menyebabkan kamu durhaka kepada ayahmu?” “Wahai Amirul Mukminin, apa sajakah hak anak yang harus ditunaikan oleh orangtuanya,” Tanya anak itu. Umar menjawabnya, “Memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Anak itu mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melaksanakan sedikit pun perkara itu terhadapku.” Maka Umar pun menasehati orangtua itu, “Kamu telah mendurhakai anakmu sebelum anakmu mendurhakaimu.”Sangat jelas sekali buah dari adanya dialog yang komunikatif adalah adanya keterbukaan. Dengan begitu, segala permasalahan akan segera dapat ditemukan cara penyelesaiannya.

Demikianlah tujuh karakter orangtua reformis, yang kesemua karakter itu pada dasarnya merupakan sikap dasar seorang dai dan murobbi. Sebenarnya ketujuh karakter itu merupakan perilaku yang harus dipraktekkan, bukan sekedar teori kata-kata. Dengan demikian, para orangtua harus mempraktekkan karakter-karakter itu dengan sebenar-benarnya. Wallahua’lam bish showwab. Ed: T

Source: https://nsholihat.wordpress.com/tag/parenting-ala-rasulullah/

 

Advertisements

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s