(L.G.B.T) Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita???

Bagaimanakah seharusnya sikap kita???

LGBT, salah satu trending topik yang hangat dan sensitif di Indonesia. LGBT merupakan singkatan dari Lesbian-Gay-Biseksual-Transgender. Banyak media massa yang mengangkat isu tersebut sebagai headline news baik di acara berita maupun surat kabar. Banyak yang mendukung keberadaan LGBT dan tak sedikit pula yang menolak komunitas tersebut. Apalagi jika sampai dilegalkan di Indonesia.

“Oh lesbian.”

“Oh homoseksual.”

Hmm, yang penting saya normal (Insya Allah).

Hanya sebatas itu, namun kali ini saya mulai geram. Telinga mulai panas mendengar LGBT, ditambah kasus ini semakin marak di tengah-tengah masyarakat. Kasus yang meresahkan!

Tadi malam, saya melihat acara di salah satu televisi Indonesia. Acara tersebut menghadirkan pakar dari berbagai elemen atau lembaga, mulai dari pengacara, pakar hukum, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), psikiater, psikolog, Komnas HAM, masyarakat umum, dan yang menarik ada perwakilan dari aktivis komunitas LGBT.

Pembawa acara tersebut mengatakan, bahwa dia appreciate kepada dua orang perwakilan komunitas LGBT itu karena telah bersedia hadir dalam acara tersebut. Biasanya para kaum LGBT menutup diri, tapi mereka mau pasang badan untuk memberikan klarifikasi dan pembelaan terhadap komunitasnya. Rasa prihatin serta kasihan seketika menggugah hati saya. Mereka muncul di TV dengan rasa bangganya. Perasaan malu tak tergambar sedikitpun dari wajah mereka yang mengaku seorang gay-lesbian dan lalalaa.

Salah satu cuplikan pernyataan dari perwakilan kaum lesbian mengatakan bahwa, “Cinta itu netral, tidak berkelamin, tidak melihat gender, tidak memandang usia. Kita bebas mengekspresikan rasa cinta kita kepada siapapun, itu adalah HAM.”

“Normal menurut kita tentu berbeda. Saya justru melihat seseorang menyukai atau mencintai sesama jenis yaa ‘normal’, sah-sah saja. Kenapa harus dilarang?”

“Kaum kami juga melakukan kegiatan biasa yang seperti orang non LGBT lainnya kok. Kami makan, kami sekolah, kami melakukan kegiatan amal, kami nonton, atau kalau ada uang kami ke pesta. Selain itu, kami juga sering sharing, berdiskusi, dan lain-lain. Intinya kami saling support, agar di antara mereka tidak ada yang merasa sendiri.”

“Kami (kaum LGBT) merasa tertindas, terdiskriminasi. Kami sering dikucilkan, dibuang, dihina, dibuli, padahal apa salahnya kalau saya gay? Atau yang lainnya LGBT? Saya sudah merasa tidak tertarik kepada perempuan dan sebaliknya malah tertarik kepada laki-laki sejak kecil, sekitar kelas empat SD. Di keluarga, ya saya mendapatkan perlakuan/pengasuhan oleh orang tua selayaknya anak-anak pada umumnya. Saya dibesarkan oleh ayah dan kakak-kakak saya dengan kasih sayang.” Dan masih banyak lagi pernyataan dari Mr. G dan Mrs. L yang tidak dapat saya utarakan lewat tulisan ini. Mendengarnya pun saya merasa sesak dan jijik.

Saya tak membenci mereka, namun perbuatannya yang membuat saya benci. Jelas-jelas hal tersebut melanggar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Indonesia sebagai adat Timuran.

Dewasa ini, zaman semakin berubah. Banyak terjadi pemutarbalikan fakta. Ibarat robot yang dikendalikan oleh sistem. Yang salah dibenarkan dan yang benar dibobrokkan, dihancurkan dengan mengatasnamakan HAK ASASI MANUSIA!!

“Na’udzubillah. Inikah tanda-tanda kiamat menanti kita?” lirih saya dalam hati.

Setelah dua orang perwakilan komunitas LGBT memberikan penjelasannya, pembawa acara meminta perwakilan KPAI untuk memberikan tanggapan, berikut penuturannya,

“Kami dari perwakilan KPAI mengakui bahwa LGBT itu merupakan suatu kebebasan individu dalam memilih pilihan hidupnya, jalannya, hak asasi manusia, tapi perlu diingat bahwa hak asasi itu tidak berdiri sendiri, perlu memperhatikan hak asasi yang lain. Kami juga menyatakan dengan tegas bahwa kami sebagai garda terdepan dalam perlindungan anak Indonesia, kami MENOLAK PROPAGANDA tentang LGBT. Mungkin Mr. G dan Mrs. L secara terbuka bahwa mereka LGBT, mereka baik-baik, tapi ada kaum LGBT yang secara terang-terangan mempropagandakan, mempromosikan LGBT ini kepada khalayak luas bahkan terutama kepada anak-anak. Anak-anak itu harus diberikan informasi yang baik dan sebenar mungkin. Mereka harus memperoleh informasi yang benar tentang edukasi seksual, dan saya yakin dalam ajaran manapun pasti pasangan yang diakui itu berbeda jenis (perempuan dan laki-laki).”

“Anak-anak sekarang sudah pintar, mereka bisa mengakses informasi dengan mudah lewat media, internet, youtube, dan lain-lain. Saat ini, berdasarkan bukti-bukti yang ada sudah banyak sekali promosi LGBT secara masif. Jika kita update whatssapp dan line contohnya, sekarang sudah ada emoticon terbaru yang mempropagandakan LGBT dan pornografi. Sementara, pornografi merupakan musuh terbesar bagi anak-anak yang dapat merusak otak mereka. Ini yang sangat kami tentang. Sebanyak 87 negara pun sudah menentang pelegalan LGBT, bahkan bisa ditindak pidana. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia juga harus bersikap tegas untuk menangani kasus ini. Tidak boleh dibiarkan begitu saja.”

“Selain itu, dalam suatu negara harus ada yang namanya angka kelahiran. Jika pasangan LGBT menikah, tidak akan ada yang namanya keturunan, lewat jalur manapun. Bagaimana suatu negara, akan maju jika tidak ada generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan dan melakukan pembangunan? Sekian. Terima kasih.” Saya sangat setuju dengan pernyataan yang disampaikan oleh perwakilan KPAI tersebut.

LGBT? Mereka bilang secara ilmiah adalah terjadi ketidaknormalan gen dalam kromosom, sehingga muncul ekspresi atau perasaan yang berbeda pada orang tersebut. Alamiahnya, seseorang akan tertarik pada lawan jenisnya, namun karena ketidaknormalan gen tersebut membuat seseorang malah tertarik pada sesama jenisnya, benarkah demikian? INGAT !! Riset tersebut merupakan PROPAGANDA PALSU mereka. Akan tetapi, yang benar secara ilmiah, keturunan (anak) dapat terjadi jika dilakukan perkawinan antara laki-laki dan perempuan atau betina dan jantan atau putik dan benang sari, yang kemudian bertemu, bercampur menjadi satu membentuk zigot. Kemudian zigot itu berkembang menjadi embrio. Embrio tersebut terus berkembang atas izin Allah hingga ia menjadi sosok yang sempurna.

Itulah perjalanan singkat proses terjadinya keturunan. Sekali lagi, ditegaskan bahwa keturunan hanya  akan ada atau diperoleh dari hasil perkawinan pasangan yang normal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nur ayat 32  berbunyi,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah), dari hamba-hamba sahayamu yang LAKI-LAKI dan PEREMPUAN. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahaluas pemberianNya, Maha Mengetahui.”

Oleh karena itu, Islam sangat menentang keras keberadaan LGBT. LGBT termasuk ke dalam perbuatan yang keji dan haram.

Masih ingat dengan cerita Nabi Luth as ? Yuk kita simak kalam ilahi pada surat Al-A’raf ayat 80-82.

Artinya, “Dan (kami juga telah mengutus Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh kamu telah melampiaskan syahwat kepada sesama lelaki bukan perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas. Dan jawaban kaumnya tidak lain hanyalah berkata, ”Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini. Mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci. Kemudian kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Istrinya termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat dosa itu.”

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Hmmmm, sungguh mengerikan.

Setelah menyimak ayat tersebut, sebagai manusia yang diberikan akal untuk berpikir, hati untuk merasa, telinga untuk mendengar, apalagi kita sebagai umat muslim, akankah kita hanya menjadi penonton di layar kaca? Diam membisu. Akankah kita baru bertindak setelah LGBT terjadi pada keluarga dan kerabat kita sendiri? Di mana hati nurani kita? Mau jadi apa generasi emas kita, jika kita terus membiarkan propaganda LGBT ini semakin merajalela?!

Sahabat…

LGBT itu bukan kebebasan atau hak asasi. LGBT merupakan suatu penyakit. LGBT harus segera disembuhkan, diperbaiki atau penyakit ini akan menular dan merusak seluruh aspek kehidupan. LGBT itu penyimpangan. Penyimpangan terhadap ajaran agama atau hukum alam. Negara harus membantu agar orientasi seksual mereka kembali ke sunnatullah. Jangan sampai azab Allah terhadap kaum Luth beberapa abad yang lalu, terjadi lagi pada abad ini. Rasulullah saw pun melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, maupun perempuan yang menyerupai laki-laki. Islam, adalah agama yang memiliki aturan sangat jelas. Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda dan mempunyai kodratnya masing-masing. Oleh karena itu, himbauan untuk seluruh masyarakat terutama para orang tua untuk lebih berhati-hati, dan  memperbaiki pola pengasuhan anak. Selain itu, ajaran agama juga perlu diterapkan pada anak-anak sejak dini, agar kelak mereka tumbuh dan berkembang menjadi generasi hebat kebanggaan umat yang menebar manfaat dan bermartabat. Aamin.

Wallahu a’lam bisshawab.

Merebaknya kasus LGBT, membuat saya merasa kecewa, prihatin dan sedih.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf apabila dalam tulisan ini banyak mengandung kata-kata yang kurang berkenan. Kekurangan dari saya dan kesempurnaan hanya milik Allah ‘Azza wa jalla.

Semoga Allah mengampuni saya, mengampuninya, mengampuni mereka, mengampuni kami semua yang tidak mempunyai daya dan upaya melainkan dengan pertolonganNya.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb. Ed: F & T

Advertisements

2 thoughts on “(L.G.B.T) Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita???

  1. Tunggu, benarkah kelainan gay dan lesbian itu disebabkan oleh kelainan gen?? Kalau gitu berarti itu namanya fitrah dong?? Setahu saya kelainan gay dan lesbian itu karena pengaruh lingkungan bukan karena fitrah (efek kelainan pada gen).. Mohon tanggapannya, terima kasih..

    Like

  2. Afwan, sudah direvisi kembali mengenai tulisan di atas.. Mengenai kelainan gen, teori yang menyatakan bahwa gay sifat genetis adalah propaganda palsu untuk melegitimasi penyimpangan perilaku tersebut. Persoalan sesungguhnya bukanlah teori genetis, tetapi gay sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) liberal yang bernaung dalam demokrasi dan hak asasi manusia. Semuanya dijamin dalam liberalisme, bukan saja LGBT, namun penyimpangan-penyimpangan lainnya juga. Wallahu a’lam bisshawab. Afwan sebelumnya, tidak ada orang yang bebas dari kesalahan, InsyaAllah kedepannya lebih baik lagi, Jazakallahu khairan katsiran atas tanggapannya :).

    Liked by 1 person

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s