Terbakarnya Nyala Juang Si Tangan Mungil

Ditulis oleh Ranti Fatya Utami
5 Februari 2016, 16.34 WIB
Dramaga


Terus saja tangan mungil itu mengobrak-abrik tumpukan buku di lemari. Mencari sesuatu yang tiba-tiba begitu penting nan berharga baginya. Namun apa daya, sesuatu itu tak jua ditemukan. Hatinya mencelos tapi ia terus berusaha tuk percaya bahwa sesuatu itu masih ada. Tidak begitu saja lenyap dari dunianya.

Ia hanya sendiri di dalam rumah sederhana yang telah ia tinggali semenjak lahir. Tak ada sanak saudara yang membersamainya di rumah itu. Keluarga kandungnya sudah tidak lagi tinggal di sana. Bersama kesendirian ia mencari ke segala penjuru rumah, sesuatu yang teramat berharga baginya. Yah, ternyata setelah keringatnya menganak jagung, sesuatu itu jelas tak ada. Bahkan di sudut terkecil rumahnya.

Kontan saja ia segera menuju rumah kakak perempuannya. Hendak menanyakan di mana adanya si sesuatu. Tapi, hatinya hancur. Air mata mengalir deras kala ia mendengar jawaban dari kakaknya, “Album foto keluarga kita sudah kubakar setelah kau pergi dari kota ini. Kupahami inginmu meninggalkan kota ini karena apa, kupahami kau ingin segera lari dari kedukaanmu setelah beliau meninggalkan kita. Tertidur di kuburnya menanti keputusan Allah SWT. Untuk itulah, ku tak ingin lagi kau berduka. Tak ikhlaskan perginya. Pahami itu. Ini kulakukan untukmu dan juga untuk beliau. Jadi, hentikan tangis dan rengekmu itu.  Jangan kau seret aku bersama duka dan ketidakikhlasanmu. Jelas kau tahu beliau akan bertambah berat siksanya.”

Si pemilik tangan mungil berlari bersama rintik tangisnya. Sesal tiada tara ia rasakan. Begitu menyesak di dadanya. Membuncah ke kepalanya hingga ia kelelahan dan terhenti di bawah rindang pohon akasia. Riak tangis itu tak terhenti.

“Allah, Engkaulah Rabb hamba, bagaimana hamba hendak terus mengingat wajah orang tua hamba dalam tiap doa hamba setelah Engkau ambil kembali mereka? Bagaimana hamba bisa terus menghadirkan mereka dalam alasan hamba berjuang? Siapa lagi yang menjadi alasan hamba hidup setelah Engkau ya Allah? Mereka hanya bisa hidup dalam kenangan hamba. Lantas bagaimana jika kenangan itu tergerus waktu dan hamba tidak dapat memilikinya lagi?”

Lantas, si pemilik tangan mungil tertunduk. Memikirkan musabab ia hidup. Memikirkan nasib orang tuanya di dunia sana. Apa yang bisa ia lakukan untuk menjamin nasib keduanya? Sementara ia hanya pemilik tangan mungil. Terpana kala teringat ucapan gurunya, “Salah satu amalan yang tak terputus pahalanya dari seorang hamba adalah anak yang saleh. Maka jadilah kau seperti itu. Jika kau berhasil, dapatlah kau ajak orang tuamu ke surga.”

Binar bahagia muncul di matanya. Ia menguatkan tekad dalam kalbunya. Ia harus menjadi si pemilik tangan mungil yang  terus mengalirkan pahala bagi orang tuanya. Berusaha menjadi sebaik-baik hamba Allah SWT yang taat akan perintah dan laranganNya. Memang tak mudah baginya memahami taqwa, tersebab banyaknya perkara syubhat di dunia ini.

Lari. Ia berlari menghampiri Rabbnya. Berlari ia memahami titah dan larangan  Allah SWT. Ia hadirkan selalu wajah orang tuanya di dalam sujud sepertiga malam terakhir. Memohon ampun dan memohon tuk dipersatukan di jannah-Nya. Memohon tuk dapat menemukan cerah senyum wajah keluarganya bercengkerama di surga.

Sedih memang tak lepas dari dirinya, kala sendiri menyesap. Iri memang tak terputus darinya, kala melihat sebuah keluarga utuh. Marah dalam dada memang tak pupus darinya, kala melihat anak yang menyiakan orang tuanya. Ingin rasanya ia berteriak, “Hei kau, taukah betapa berharganya masa bersama orang tua itu? Baik kah kau siakan? Mereka gerbang surgamu, tak bisa kah kau sayangi mereka layaknya cinta Ismail pada Ibrahim?”

Kini, ia menjadikan keluarganya di bumi sebagai sebagian dari alasannya hidup. Ia jadikan mereka sebagai penepis sepi akan ketidakhadiran orang tuanya. Masih ia merajut asa tuk menjadi sebaik-baik hamba Allah dan buah hati dari kedua insan yang cintanya terputus oleh masa. Ed : F & T

Advertisements

2 thoughts on “Terbakarnya Nyala Juang Si Tangan Mungil

  1. terus semangat wahai engkai pemilik tangan mungil… !
    ingat, bukan hanya keluarga saja yg bs membersamaimu di masa yg kekal nanti. tetapi orang2 yg ada didekatmu juga kini. ajak juga mereka agar membersamaimu dan keluargamu disurga nanti.. 🙂

    Liked by 2 people

  2. Ini sebenarnya kisah nyata atau karya sastra (fiksi)? Soalnya kategorinya “Buah Pikiran” dan “Opini Kakak”, cuma terasa sangat sastra, jadi entah kenapa saya kok mengira ini seharusnya masuk kategori “Buah Pena” – “Karangan Kakak”..

    Catatan: hanya opini pribadi

    Like

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s