Hari Bumi

” Perspektif Islam tentang Hari Bumi “

Apresiasi Islam terhadap bumi sebagai planet yang didiami oleh manusia diwartakan oleh Alquran dalam banyak ayatnya. Di antaranya,

QS. Hud (11): 61.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ﴿٦١﴾

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamupemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Juga, ketika menyitir tentang kerusakan bumi, Alquran memberikanstatementseperti yang terdapat dalam

QS. Ar-Rum(30):41.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Sebagai rahmat bagi semesta, Islam telah mengatur adab bagaimana cara memperlakukan bumi. Hal ini dapat ditemukan dalam banyak keterangan, baik dari sejarah maupun aktivitas ibadah mahdhah.

Yang paling jelas adalah refleksi kesadaran lingkungan yang diajarkan dalam ibadah haji. Ketika mulai berihram (memasuki wilayah Tanah Haram), jemaah haji (baca: manusia) tidak diperkenankan menyakiti binatang, menebang pepohonan, bahkan memetik rumput sekalipun.

Konsep pelestarian bumi beserta ekosistem yang ada di dalamnya juga telah diaplikasikan oleh Rasulullah saw. dengan memperkenalkan kawasan lindung (hima’), yakni suatu kawasan yang harus dilindungi pemerintah atas dasar syariat guna melestarikan kehidupan ekosistem hutan.

Nabi pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’guna melindungi lembah, padang rumput dan tumbuhan yang ada di dalamnya.

Selain hima’, Islam juga memperkenalkan konsep ihya’ al-mawat, yakni usaha mengelola lahan yang belum dimanfaatkan agar memiliki nilai produktivitas bagi kesejahteraan manusia.

Dari konsep ini, terlihat betapa Islam memiliki perspektif lingkungan sangat kuat, yang tidak hanya ada dalam tataran normatif tetapi juga telah dicontohkan Qudwah Hasanah umat manusia, Rasulullah saw., selama perjalanan risalahnya.

Upaya untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan lingkungan pada umat Islam akan memberikan andil besar dalam mencegah rusaknya wilayah bumi yang dimanatkan Allah kepada manusia untuk dimakmurkan.

Sebagai unit sosial terkecil, keluarga memegang peran yang penting dalam pendidikan lingkungan hidup. Dalam hal ini seorang ibu sebagai pendidik utama anak-anaknya dapat berkontribusi sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai ramah lingkungan dalam keluarga.

Hal ini bisa dilakukan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sederhana. Misalnya menghemat air, menyayangi binatang, membuang sampah di tempatnya, menanam dan memelihara pohon dan bunga, mematikan alat elektronik dan lampu ketika tidak digunakan.

Yang harus selalu dicamkan, hal-hal kecil dapat berdampak besar apabila dilakukan secara berjamaah.

Wallahu alam

*)Diolah dari berbagai sumber

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s