Jilbab-in Hati Aja Dulu!

Jilbab-in hati aja dulu. Nah sudah tidak asing kan dengan kalimat tersebut? Menurut teman-teman apa iya kalau jilbab itu digunakan dihati? Lalu apa benar jilbab budaya Arab? Lah ko, ko budaya sih… Hmmm nah biar ga keliru, yuk kita simak bahasan berikut ini.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan pemakaian jilbab bagi seluruh Muslimah dari seluruh belahan dunia. Jilbab bukanlah budaya Arab, jilbab merupakan syariat Islam yang jelas tuntutannya dalam al-Qur’an bagi perempuan mukmin. Jilbab adalah pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki perempuan dewasa. Nah pakaian luar loh, bukan untuk di dalam tubuh kaya hati xixi.

Jika jilbab merupakan budaya bangsa Arab, tentu ayat dalam surat al-Ahzab ayat 59 tiada berguna. Ayat tentang kewajiban berjilbab ini turun di Madinah. Hikmah mengenakan jilbab adalah supaya lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Bagian akhir ayat bahwa ‘Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ dimaksudkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap apa yang telah berlalu di masa jahiliyah di mana mereka belum mengetahui dan memahami tentang kewajiban jilbab.

Yup, jadi jilbab itu kewajiban ya sobat, bukan nunggu kesiapan hatinya udah dijilbab-in.

Bukan Budaya tapi Hukum Allah

Asbabun nuzul QS.An Nuur ayat 31 menjelaskan hal ini. Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Murtsid, pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main dikebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka kelihatan. Berkatalah Asma’: “Alangkah buruknya (pemandangan) ini.” Turunnya ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 31) sampai, … ‘auratin nisa’… (…aurat wanita…) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada kaum Mukminat untuk menutup aurat mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah] (Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an), K.HQ Shaleh, H.A.A. Dahlan, dkk).

Dikemukakan Sa’id bin Manshur, Sa’ad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: “Dulu isteri-isteri Rasulullah Saw keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja.” Maka turunlah ayat ini: Ya ayyuha al-Nabiyy qul li azwajika wa banatika wa nisa’i al-mu’min yudnina ‘alayhinna min jalabibihinna… Allah memerintahkan mereka mengenakan jilbab supaya berbeda dengan hamba sahaya.

Dari asbabun nuzul ayat ini, sama sekali tidak tampak bahwa jilbab adalah budaya Arab. Justru menunjukkan bahwa tadinya perempuan merdeka dan hamba sahaya berpakaian dengan cara yang sama, lalu Allah memerintahkan perempuan Muslimah merdeka mengenakan jilbab. Nah sobat, jadi seharusnya kita bangga dan bergembira menjadi perempuan yang merdeka dengan menggunakan jilbab. MasyaAllah.

Maka yang masih mengatakan bahwa jilbab merupakan budaya Arab adalah pendapat yang lemah sekali dalam penggalian dalil. Sekalipun misalnya memang benar bahwa jilbab adalah budaya perempuan Arab, tetapi dengan adanya perintah Allah kepada wanita mukminah, maka perintah tersebut berlaku juga untuk perempuan mukmin selain Arab. Hal ini karena Rasulullah Saw diutus kepada seluruh manusia, bukan hanya bangsa Arab. (HR Bukhari Muslim)

Nah sobat, masih mau nunggu jilbab-in hatinya dulu? atau masih bersikeras kalau jilbab budaya Arab?

Yuk kita sama-sama memperbaiki diri dan tentunya niat agar Allah ridho kepada kita. Bismillah, Hamasah!

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s