Stunting itu apa?

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh Sobat Birena! Apa kabar? Semoga baik-baik saja yaa.. Oh iya, kali ini kita mau ajak Sobat Birena buat lebih mengenal dengan stunting nih, Sobat Birena pernah dengar stunting? Apa itu yaa? Kenapa kita perlu mengetahuinya? Yuk mari simak ulasan berikut!


Stunting adalah keadaan yang menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan (Ni’mah dan Nadhiroh 2015). Anak-anak yang mengalami stunting akan terhambat pertumbuhannya, baik dari segi fisik maupun perkembangan kecerdasannya. Menurut WHO (2010), stunting direpresentasikan oleh z-score TB/U kurang dari -2 standar deviasi menurut standar pertumbuhan WHO. Intinya, tinggi anak tersebut sangat kurang untuk anak-anak seusianya.


Ternyata stunting ini menjadi masalah serius di berbagai negara bahkan sampai dipantau khusus oleh dunia. Data global menunjukkan 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting pada tahun 2017 dan lebih dari setengahnya berada di Asia (Kemenkes RI 2018). Sedangkan di Indonesia sendiri, angka penderita stunting masih sangat tinggi, bahkan menempati urutan ke-lima di dunia dengan jumlah anak stunting terbanyak. Di tahun 2017, tercatat 26,9 % anak di Indonesia mengalami stunting (Bima 2019). Dampak yang ditimbulkan stunting antara lain mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, saat tua rentan penyakit, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, merugikan ekonomi, serta postur tubuh yang tidak maksimal saat dewasa. Anak-anak yang mengalami stunting juga lebih mudah terjangkit penyakit karena kurang gizi yang dialami anak tersebut sehingga daya tahan tubuhnya lemah. Selain itu, stunting dapat merugikan ekonomi karena besarnya pengeluaran pemerintah terhadap jaminan kesehatan akibat penyakit yang ditimbulkan anak penderita stunting. Penderita stunting lebih mudah mengalami kegemukan sehingga rentan terhadap serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke ataupun diabetes (Riskesdas 2013).


Indonesia belum bisa mengatasi masalah stunting sampai tuntas meski angka penderita stunting menurun dari tahun sebelumnya karena belum mencapai ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%. Ditambah lagi dunia sedang mengalami pandemi, khususnya di Indonesia sendiri yang angka penderita COVID-19 masih terus meningkat setiap harinya. Penutupan dan pembatasan banyak sektor untuk melakukan kerja mengakibatkan banyak pekerja yang dipulangkan. Hal ini dikhawatirkan akan berujung pada krisis pangan sehingga masyarakat banyak yang tidak terpenuhi gizinya terutama ibu hamil, bayi, balita, serta anak-anak yang sedang membutuhkan asupan gizi untuk pertumbuhannya. Keadaan ini dikhawatirkan pula menyebabkan kenaikan angka penderita stunting. Jika penderita stunting meningkat, maka akan ada banyak anak-anak Indonesia yang tidak maksimal pertumbuhannya, menghambat proses perkembangan fisik dan kecerdasannya, bahkan yang lebih parah lagi menurunnya kesehatan dan menimbulkan penyakit lain sampai ada yang meninggal dunia.


Sobat Birena pasti tidak mau kan hal ini terjadi? Lalu bagaimana cara mengatasinya?


Ada dua caranya, yang pertama adalah pencegahan dan yang kedua adalah upaya dalam menurunkan prevalensi penderita stunting itu sendiri. Pencegahan stunting dapat dimulai dari pemehuhan gizi pada ibu hamil. Hal ini penting karena pertumbuhan anak dimulai dari masa kehamilan. Gizi pada ibu hamil yang perlu diperhatikan meliputi makronutrien berupa energi yang cukup dan mikronutrien berupa vitamin dan mineral. Jika perlu disarankan mengonsumsi multivitamin juga agar pertumbuhan janin maksimal. Pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI, rutin ke posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang anak juga dapat dilakukan untuk mencegah stunting. Selain itu, pengadaan fasilitas air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan masyarakat dan dapat pula menjadi langkah pencegahan stunting. Lingkungan yang bersih memberikan ruang optimal bagi tumbuh kembang anak dan mencegah dari berbagai penyakit sehingga zat gizi dapat diserap dengan baik serta terhindar dari kurang gizi dan stunting.


Upaya menurunkan prevalensi stunting dapat dimulai dengan penetapan 100 kabupaten prioritas dan dilanjutkan 200 kabupaten. Dengan ini, pemerintah bisa memberikan perhatian khusus terhadap daerah yang rentan terhadap stunting. Yang kedua adalah gerakan “Seribu Hari Pertama Kehidupan”. Gerakan ini akan membantu pemantauan secara intensif terhadap awal masa perkembangan anak sehingga diharapkan angka stunting akan menurun. Yang ketiga adalah pemberian suplemen mikronutrien balita dan ibu hamil melalui tablet tambah darah. Pemberian mikronutrien ini akan sangat membantu kekurangan gizi sehingga angka penderita stunting dapat ditekan.
Nah, sekarang Sobat Birena sudah lebih mengenal stunting kan? Yuk kita perbaiki pola makan kita, perhatikan lagi asupan gizinya agar menjadi penerus bangsa yang hebat dan kuat! Semangat! Semoga bermanfaat yaa!


Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Catatan Kaki:

Prevalensi : jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah


Ni’mah K, Nadhiroh RS. 2015. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Media Gizi Indonesia. 10(1): 13–19.
Pusat Data dan Informasi. 2018. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta(ID): Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Bima A. 2019. Analisis bagaimana mengatasi permasalahan stunting di Indonesia.

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s