Mahtam dan Bahaya Syirik

Di suatu tempat nan jauh di sana, hiduplah seorang pria berbadan kekar dan gagah. Ia adalah seorang yang baik dalam bermasyarakat, dan terkenal tekun dalam beribadah. Sehari-hari ia bekerja sebagai seorang peraJin yang sering membuat panah. Selain dijual, panah tersebut biasa ia gunakan  untuk berburu di hutan bersama temannya setiap minggu. Pria tersebut bernama Mahtam.

Suatu hari, temannya yang bernama Sala datang ke rumah Mahtam. Seperti biasa, Sala datang untuk mengajaknya berburu.

(Toktoktok) Assalamu’alaikum Mahtam,” ucap Sala setengah berteriak.

“Wa’alaikumussalam. Oh Sala kawanku! Bagaimana kabarmu?” jawab Mahtam tak kalah bersemangat.

“Hehehe Alhamdulillah baik, Tam. Mahtam sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Sala menimpali.

“Alhamdulillah baik juga Sal, mari masuk!”

Mereka pun duduk di teras rumah.

“Tam, bagaimana? panah sudah siap belum? Hehe, Aku berniat mengajak Mahtam berburu tiga hari lagi, apa Mahtam siap?” tanya Sala.

“Masyaa Allah, busur panahnya sudah siap. Namun, anak panahnya sepertinya harus diperbanyak lagi, Insyaa Allah nanti ku buatkan dulu ya. Lalu tiga hari lagi kita berangkat, Insyaa Allah Saya Sangat siap,” jawab Mahtam penuh semangat.

“Oke mantap lah. Kalau begitu, Aku langsung pulang saja, ya, masih ada keperluan di rumah,” ucap Sala.

“Oh tidak mau mengobrol dulu? Sambil minum teh atau kopi?” tanya Mahtam.

“Di lain kesempatan saja, yang pasti jangan lupa siapkan anak panahnya, ya,” kata Sala sambil beranjak berdiri.

“Insyaa Allah,” jawab Mahtam penuh keyakinan.

Tiga hari kemudian, Sala kembali  ke rumah Mahtam untuk menagih janji berburu bersama.

(Toktoktok) Assalamu’alaikum Mahtam, sudah siap?” salam Sala.

“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah sudah, mari berangkat!” jawab Mahtam.

Mahtam dan Sala pun berangkat ke hutan pada siang hari. Mereka berangkat dengan persiapan yang matang dan kondisi fisik yang sangat kuat. Alhamdulillah, perjalanan mereka di hutan tidak banyak hambatan, bahkan bisa dibilang sangat lancar. Sore harinya, tibalah mereka di daerah sekitaran hutan. Hari pun mulai gelap sehingga mereka harus  mendirikan tenda untuk tidur. Tidak lupa mereka menunaikan sholat maghrib berjama’ah. Setelah sholat, mereka memakan bekal yang telah disiapkan sebelumnya. Karena kelelahan, mereka pun langsung membagi shift berjaga. Jika Sala tidur, Mahtam  yang akan menjaga tenda karena takut ada hewan buas yang memangsa mereka, begitupun sebaliknya.

Singkat cerita, fajar tiba dan mereka pun bergegas melaksanakan salat subuh beserta sunnah rawatib qobliyahnya. Setelah sholat subuh, Mahtam dan Sala langsung melanjutkan perjalanannya. Mereka langsung memasuki area hutan yang lebih dalam lagi. Tidak disangka, Mahtam langsung menemukan hewan buruan yang besar. Mahtam melihat seekor rusa yang sedang memakan rumput. Mereka pun langsung mengendap-endap untuk memanah rusa tersebut. Sayangnya, perburuan tersebut sangat sulit. Ketika hendak dipanah, rusa tersebut malah berjalan berpindah tempat. Tak perlu menunggu lagi, mereka berdua bergegas mengendap-endap mengikuti rusa tersebut. Masuk lagi ke dalam hutan hingga tiba-tiba, rusa tersebut berhenti sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Seolah reflek, Mahtam langsung mengambil anak panah dan menembakkannya tepat ke arah Sang rusa. Ssppt, ternyata bidikannya meleset. Tak tinggal diam, rusa tersebut langsung berlari dan diikuti oleh Mahtam dan Sala. Karena sang rusa terlalu cepat, mereka kehilangan jejaknya. Sambil mempersiapkan panah berikutnya, mereka menerka-nerka kemana arah lari rusa tersebut. Hingga sampailah mereka di sebuah pohon yang besar sekali. Tak jauh dari sana, mereka merasa aneh karena melihat banyak orang yang datang ke depan pohon sambil membawa makanan-makanan seperti kopi, susu, nasi dan lainnya. Dengan penasaran, mereka langsung bertanya kepada salah satu warga yang sedang membawa makanan tersebut. 

“Permisi, Pak. Maaf kalau Saya boleh tau, ini sedang ada apa ya, Pak?” tanya Mahtam penuh penasaran.

Lalu seorang warga menjawab, “Kami sedang meminta kepada pohon ini agar memberikan kami uang yang banyak.”

Mahtam dan Sala diam sejenak, sedikit terkejut dengan jawaban sang bapak. Lantas Mahtam menimpali, “Oh begitu ya, Pak. Terima kasih, Pak.”

Mahtam dan Sala pun berdiskusi karena sama-sama berpikir ada yang aneh dengan pohon besar ini. Letaknya yang jauh di tengah hutan, tetapi banyak sekali warga yang berdatangan untuk meminta kepadanya. Keimanan di hati mereka bergejolak, karena mereka tahu hanya Allah-lah Maha Pemberi Rezeki untuk seluruh makhluk-Nya. Oleh karena itu, mereka memutuskan menunggu seluruh warga pulang, lalu bertekad menebang pohon tersebut. Karena mereka tidak suka ada kemusyrikan di muka bumi ini. Mereka menunggu cukup lama hingga sore hari. Ketika hanya tersisa mereka berdua disana, mereka berniat mulai menebang pohon besar tersebut. Alangkah kagetnya mereka ketika mau menebang pohon, ada sesosok makhluk yang berbicara.

“Stoop!!”

Namun, mereka tidak melihat siapa-siapa. Pandangan mereka mulai bergerak ke atas pohon, hingga nampak sesosok Jin sedang duduk di atas sana.

“Jadi kau yang membuat mereka menyekutukan Tuhan?” tanya Mahtam penuh amarah.

“Ya, emang kenapa? Masalah untukmu? HAHAHAHA,” jawab Jin sambil tertawa.

“Tentu itu sangat bermasalah untuk Kami,” jawab Sala mendukung Mahtam.

“Lalu apa maumu?” tanya Jin lagi.

“Kami akan menebang pohon ini agar tidak terjadi lagi kemusyrikan di hutan ini,” jawab Mahtam mantap.

“Jika kalian ingin menebang pohon ini, kalian harus menghadapi Aku dulu,” tegas Sang Jin sambil merapalkan beberapa mantra.

Tidak perlu banyak bicara, terjadi pertarungan sengit di antara mereka. Mahtam dan Sala melawan Jin sekuat tenaga, akan tetapi Sala harus terluka parah hingga ia jatuh pingsan. Namun tekad mereka membuahkan hasil. Dalam waktu yang bersamaan, Jin pun kalah karena pertarungan berhasil diselesaikan oleh Mahtam.

“Aku akan tebang pohon ini!” ucap Mahtam.

“Jangan! Kumohon jangan tebang! Aku akan memberikan apapun yang Kamu inginkan asalkan Kamu tidak menebang pohon ini!” ucap Jin penuh permohonan.

 “Apa yang bisa Kamu berikan padaku?” tanya Mahtam mulai tergoda.

 “Aku bisa memberikan harta yang banyak kepadamu. Setiap pagi nanti, di bawah bantalmu, akan muncul banyak sekali harta dariku yang akan membuatmu kaya raya. Semua itu bisa terjadi asalkan Kamu tidak tebang pohon ini,” jawab Jin mantap dengan penuh kelicikan.

Sangat disayangkan, Mahtam malah tertarik dengan godaan Jin tersebut. Kekayaan sekejap membuat ia melupakan keimanannya, membuat ia lupa bahwa hanya Allah Tuhan yang Maha Memberi Rezeki untuk makhluk-Nya. Ia setuju untuk tidak menebang pohon tersebut, lalu langsung pulang ke rumah dan mengobati Sala yang masih tidak sadarkan diri.

Singkat cerita pagi datang.

Mahtam tidak sabar mengecek keberadaan uang di bawah bantalnya. Ketika Mahtam mengangkat bantalnya, betapa senangnya ia, ternyata betul ada banyak uang disana. Hari-hari berlalu, ia selalu bahagia karena memiliki harta yang sangat melimpah. Akan tetapi, setelah sebulan berlalu dan Mahtam mengecek bawah bantalnya, tidak ada uang disana. Dengan penuh amarah, Mahtam langsung pergi ke hutan seorang diri. Ia akan menemui Sang Jin untuk menagih janjinya. Jika tidak, sekarang ia akan benar-benar menebang pohon besar tersebut.

Sesampainya Mahtam di pohon besar tersebut, ia langsung bertanya.

“Hey Jin! Kenapa tidak ada lagi uang di bawah bantalku seperti yang Kamu janjikan?” tanya Mahtam sambil berteriak marah.

“Terserah Aku, dong. HIHIHI,” jawab Sang Jin sambil terkikik.

“Dasar licik, akan ku tebang pohon ini sekarang juga,” tegas Mahtam.

“Hadapi Aku dulu, manusia serakah!”  timpal Sang Jin.

Tanpa banyak bicara, Mahtam mulai menghajar Sang Jin. Namun pada pertarungan kali ini, Mahtam merasa Sangat kewalahan. Ia terluka parah hingga akhirnya kalah dalam pertarungan tersebut. Sambil lelah dan kebingungan,  ia bertanya, “Hey Jin licik, kenapa Kamu lebih kuat sekarang?”

“Bukan Aku yang semakin kuat, tapi Kamu yang semakin lemah,” jawab Sang Jin.

“Mana bisa Aku latihan setiap hari di rumah,” timpal Mahtam.

“Bukan. Semua ini terjadi karena Kamu melupakan satu sosok yang sangat berharga bagimu. Hingga akhirnya Kamu tidak berdaya dan kalah dalam pertarungan ini,” jawab Sang Jin.

“Siapa ia? Sala? Bukankah ia begitu payah kemarin?” tanya Mahtam masih penuh penasaran.

“Bukan ia dasar serakah! Tuhanmu, sosok yang Kamu lupakan adalah Tuhanmu! Karena kemarin Kau bersama-Nya, memperjuangkan nama-Nya, Allah membantumu. Sekarang pergilah dari sini, dasar manusia serakah!” jawaban terakhir Sang Jin sambil menghilang dari pandangan Mahtam.

Akhirnya dengan penyesalan yang begitu pedih, Mahtam pergi dari hutan tersebut. Ia langsung bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya taubat, taubatan nasuha, meminta ampun atas segala kekhilafan syirik yang telah dilakukannya.

Jadi begitulah ceritanya, di antara pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Mahtam ini adalah bahwa dalam hal apapun, tindakan apapun, kita wajib menyertakan Allah sambil berusaha menjauhi larangan-Nya. Karena Allah akan senantiasa menyertai kita, selalu dekat dengan kita, kita tak perlu risau karena Allah selalu mengasihi hamba-Nya. Sebaliknya, sifat musyrik adalah sebenar-benarnya hal yang harus kita hindari karena Allah Sangat membencinya.

Silahkan tulis kesan dan pesanmu di sini..! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s